Rabu, 22 Juni 2016

Sajak Irma Agryanti (Kompas, 18/6/2016)


Lidah

berderik di lekuk

sebuah tikaman
memisahkan isim dari inti

sebagai tersisih
dirinya, daya julur tak terukur
bahasa
berpendar ke penjuru

akan terasah
akan terjaga
miliknya

lisan itu
kata yang kerap ragu-ragu 
  
2016




Wali

tiga cabang
tiga liang
ke arah kiblat

sebelum takbir
takdir mengait
yang patah dari yang pahit

kisah pelingsir
syeh gaus dengan dua pengiring
tiba di mataram

di tanjung
dingin resap ke batang
terserap urat-urat daun

datuk laut berdiri
menangkis kabut
menyurut surut

doa-doa terucap
berdengung seperti surga
dari dalam gua

tak ada nabi setelah madinah
anak yatim yang bersisian
luput sebagai imam


di makam di mana mula
sebuah agama
dan rekaat

penebus-penebus yang diutus
berkata tentang nubuat

tentang apa-apa yang ingin kami ingkari

2016




Makam 

sebelum tak ada
yang terkubur
di makam

sering ia impikan
hutan fosfor
tidur dalam rimbun
lembing-lembing, mata panah

melesat dalam gugus centaurus
galaksi. sebuah transit
ruh-ruh, taifun-taifun

di gerbang
gamang memandang
mata maut biru yang gemilang
dan malaikat menanti

lonceng kematian
saat konstelasi bintang-bintang tercipta dari
getah randu dan cahaya

2016  


Rabu, 06 April 2016

Sajak Irma Agryanti (Riau Pos, 3/4/2016)

Di Jalan Sepi

I said, “I’m under the gun.” Round here.
Oh, man, I said, “I’m under the gun.” Round here.
And I can’t see nothin’, nothin’. Round here.
- Counting Crows-

tak ada oditur bagi syuhada
waktu hanya
desau angin
hari yang sebentar

dan kabut menampik pagi
dan orang-orang suci
terbang ke marwah

para pemberi kabar pergi
dari riuh
menjelang ajal

tapi gigil adalah anak-anak berlarian
ke dalam rumah
suara tuhan membuat gugup

“di jalan sepi itu hanya ada lorong buntu,” tunjuknya

sebab antara udara dan hujan
seorang sahid berjalan
dengan kematian di kepalanya

2015




Dalam Kantuk Yang Jatuh

There’s a dead man trying to get out
Please help me stay awake, I’m falling …
-Counting Crows -

tidurlah
dalam kantuk yang jatuh
di jalan turun itu

hari adalah igau tentang
mengapa surga tak nyata
mengapa kesedihan tak berkata

mimpi hanya maklumat
sebelum dan sesudah pagi
sebelum dan sesudah kematian

tidurlah
dalam kantuk yang jatuh
di jalan turun itu
di sisi laut, hijau pohon apel

2015 



  
Hikayat Tanah Merah Sesaat Sebelum Letusan

syahdan …..
syahdan …..

hidangan di meja raja itu bukan bestik,
bukan palumara, bukan pula ancaman

hanya santapan untuk para begundal
hanya santapan meski bersiasat sesat

tapi perjamuan, said idrus
yang menyelamatkan kaum padri

dari tahun-tahun kegelapan
dan hantu wabah

syahdan …..
syahdan …..

2015



  
Delirium

menemukanmu sebagai bayang
terpusat dalam pikiran
malam degup angin
langit gelap dan hari memendek

menemukanmu sebagai delusi
terpisah dari ingatan
kabut lingkar mata
seperti tabir, sayup dan kuyup

dan di antara keduanya
kau menemukanku
sebagai kemalangan

2014




Vertigo

berputar di dalam yang rapuh
lengan waktu
melingkar di lingkar mata
melayang di jalan tahun

berputar di luar yang ragu
kaki nasib
mengambang di ambang hari
mengabur di haru takdir

2015 


Minggu, 21 Februari 2016

Sajak Irma Agryanti (Suara NTB, 20/2/2016)

Mandalika

terimalah tubuh ini
semerah langit
selembut kabut
dalam semadi
wangsit yang menampik luka
di belah samudra

terimalah takdir ini
mungkin ada berkat
tuah yang terurai
geming yang tak jemu
teruna memurkakan diri
dengan senggeger jaring sutra

pada usungan emas
halus cemas membalut  
dan paras mandalika

meredakan angin
menelankan ombak
memadamkan cinta

sebab ke dalam gelombang
seisak tangis tercebur
melayang-layang
di tengah laut

2015





Cilinaya

hanya pada siasat
panji yang berangkat ke pawang bening
terburu memburu
hati menjangan putih

betapa hanya pada siasat
mata cincin gugur dalam senyap
dan para pengintai berkata
“maut itu, dende, datang dari balik daun ketapang”

ia tahu, tak ada darah seharum sesajen
melainkan yang mengalir dari ulu hatinya
yang mendadak terbelah

2015   





Kebun Kopi Tambora

700 meter dari permukaan laut
aku sentuh
biji kopi yang dikeringkan
tumbuh, ke dalam dongeng
tanah arabika
menyimpan bau sejarah

sebuah potret,
desa yang lusuh
anjing tua rumah belanda
terdampar dari dingin perkebunan

hutan lembab, kabut tipis
melingkar mengitari waktu

tahun 1930
seluruh kulit terkelupas
kapal-kapal VOC
bubuk kopi dalam goni
sehitam gudang penggilingan
500 hektar dari situs kerajaan


tuan! nyonya! mengapa kau tinggalkan kami
ratusan tahun lamanya, aku dengar
seorang penjaga menyapa
dengan bahasa gunung

2015





Sumbawa

sumbawa serupa debu
aku masuki siang
mendatangi ladang, mendatangi sumur

pada tanah kering
bau pohon kapas
menciptakan busung, menciptakan lapar

sebuah musim dengan bunga asam
tertancap di pusat api

seekor kuda berlari
dari bukit
melewati mitologi dan burung pemangsa

pucat kuda bisu, bisu kuda penjuru
menyeberangkan rasa haus
kekeringan massal di rumah-rumah tadah hujan

taruna-dadara menatap
lewat mata kayu moyangnya

membentangkan diri
seluas lahan terbuka
bagi padi terakhir

sumbawa,
adalah madu sulingan

warna paling abu dari sebuah hutan tropis 

2015 

Minggu, 31 Januari 2016

Sajak Irma Agryanti (INDOPOS, 30/01/2016)

Dalam Lirik

penyanyi jalanan itu
mendengar dering telpon
kereta melintas bagai sonet
dari liris pada lirik
sebaris milik 

ingatnya adalah jarak
3500 mil yang memainkan cuaca
meninggalkan lengang demi lengang
dan biru pagi

tubuhnya, dipenuhi kesepian
menangis untuk mencintai
mencintai untuk melupakan

bilamana suara hanya
getar lidah
sunyi yang senyap

dalam lagu
dalam kesedihan ini

aku,
menemukanmu sebagai hujan
menetes dari ujung mantel
yang sebentar hilang

2015 





Teluk

siapa namamu?

desember, lagu yang dimainkan
pada teluk sebelum sore
sebelum hari hilang

dan putih, dan langit putih
harum musim semi
rekah ke plateau
orang-orang bebas dari derita

dan tiap kali syair dinyanyikan
suara arus menggema
memenuhi telinga
sepasang muda yang bertanya

desember,
berlarian dari tingkap
dari rumah minaret

2015





Lagu Untuk Beth

di kota ini
sesuatu tengah terjadi
suara angin menghentikan percakapan
dalam dirinya
malam lebih panjang dan cemas

seperti letih
kata-kata sedih
meratap dari jauh

kemana pedih
hilang tak kembali

mungkin waktu, menghapusnya
dari cinta yang sia
harap yang cuma

tapi ia menanti perempuan itu tiba
dalam lagu-lagu sendu
dan ciuman yang tak sampai
di ujung telpon

2015



Kamis, 10 Desember 2015

Sajak Irma Agryanti (Majalah Horison, Edisi Desember 2015)

Sore

dari seberang,
waktu,
langit bagai mimpi sebuah kota

mata yang silau redup pada lampu
seekor anjing melintasi cahaya

aku berada di tempat tertutup
sebab takut berada di tempat terbuka

hanya sepi
dari jendela

lalu sore

2015




  
Malam

adalah ketakutan,
duka luka,
di mana perempuan merasa kesepian

dan malam yang menengok ke dalam dirinya
melihat bulan sabit tua

hening panjang, dengkur panjang
mimpi jauh, aku sendiri
seperti mazmur
yang tersia

2015 





Dalam Pejam

ia rebah seperti pukul tujuh yang menggeser matahari dan kesiur angin ketika hening merambat batang pohon, meski, napas jam serupa arus jernih, kabut yang mendatangi petang
“tapi ada yang lenyap bagai masa kecil dari tubuhku”
ia terpejam, menjauhi seluruh ingatan juga televisi yang mengecupkan selamat tinggal, lalu jatuh daun kenari, lalu waktu tak kelihatan

2015    





Suatu Hari Di Bulan Juni

ia pergi. jalan adalah kesedihan masa lalu, pada tangis, setiap pohon yang melepaskan, ingatan panjang menyakiti dada.
ke tubuhnya, angin mengirim hujan, menunjukkan arah di setiap linangan, perih mata, di sudut, terluka menerima luka.
tapi cuaca tak memiliki prasangka, menempuh sepi demi sepi, dan perempuan yang tak lagi jatuh cinta.
ia pergi. waktu seperti rasa kehilangan, meninggalkan gerimis-gerimis tipis, lebih sunyi dari kenangan, lebih pedih dari nestapa.

2015





Ibu Menjahit Tengah Malam

antara ruang dan bising
membuat untuk menciptakan
sebuah pola
lenyap disergap gelap

pada dingin
jarak memaku
aku mendengar ibu
seperti mendengar kesedihan
dalam dirinya, suara mesin terbuka
membentuk garis lurus
dengan telapak tangan kaku 

apa yang lebih dekat dari perempuan dan lubang jarum

malam adalah potongan perca
benang yang lepas dari gulungan
putus sejak lama

2015





Menonton Televisi

abad ke 21
seorang penyair mati
dalam diriku, tinggal sebaris nama

aku asing
dari rumah dan kamar
dari puisi dan rasa trauma

28 tahun usia
televisi menyala
mendaur ulang kesedihan

2015





Televisi Menonton Keluarga

adakah rumah
membangunkan keluarga, dan
menjalani siklus :
tempat kerja,
tempat penitipan anak,
restaurant,
klinik,

dari ruang seluas ini
di antara cahaya lampu
dinding layar kaca

rumah yang menangkar ibu-bapak
rumah yang menyangkal anak-anak

menyerap
derita bagi kebahagiaan
menunggu
bahagia dalam penderitaan

2015





Perihal Cuaca Buruk

awan hujan:
dari tubuhnya, hujan serupa pisau
ujung yang menyimpan
lebih dari rasa sakit

hujan angin:
dari jendela, benda-benda jatuh
kesedihan yang panjang dan basah
melepas air matanya

angin badai:
dari dalam putaran, tak ada yang rampung
untuk ditangisi
kehilangan, seperti repetisi pada angin

2015









Minggu, 08 November 2015

Sajak Irma Agryanti (Lombok Post, 08/11/2015)


Barista

pahit tangan lelaki
bagai uap di ujung lidah

sukacita, dukacita
cuma segenggam kata
                          
hanya miliknya
getir tengah hari

warna pekat dari dunia
yang tidur dengan mata terbuka

2014  






Mesin Kopi

berasal dari ketinggian
biji-biji yang membuka tubuh
tak jatuh ke dalam kabut pagi

dieramkan pada kadar
rasa cemas ketika kental

tujuh gram bubuk kopi
terkurung dalam tabung
dikenalinya sepi, ruang kosong
mambang di permukaan

tujuh gram bubuk kopi
dari warna yang sama
yang menutup jalan partikel
tak pernah sampai
ke titik apa

2014


Senin, 24 Agustus 2015

Sajak Irma Agryanti (Minggu Pagi, 21/8/2015)

Krematorium

di depan pintu
pagi dan sore yang sama
mengetuk

sebuah hari dalam kamar
sebuah restoran untuk makan malam
menonton drama, membuat tangisan

aku kenangkan
hujan di halaman belakang
kisah-kisah cinta
waktu tersalib di dinding

24 jam adalah bayangan
menyembunyikan diriku dari
suara mesin pendingin, pidato kemanusiaan

sebuah hari dalam kamar
krematorium
dengan matahari tergantung
di tepinya

2014



Jalan Laba-laba

dalam kebutaan
seekor laba-laba
menempuh sinar bulan
bersama burung pengeram malam

dipadamkan jalannya
dibasahkan tubuhnya
dari belantara dan musim hujan terakhir

dalam jurang gua
membangun rumah, mengurung cemas
jaring yang terputus

sedalam ngilu ini
diperihkan kesunyian
kehilangan sengat
ketika dunia dilenyapkan

sebab tak ada lawan
maka masuklah
ke lubang hitam 
 ̶  jauh
di bola mataku 

2014



Malam Sebuah Kota

ia dulu menyebut maryam

malam kepada gelap
jalan kosong terlulur
menangkapnya
dari cinta yang jauh

bulan paruh, langit sepucat tudung
dan rambut angin menjuntai

gedung, trotoar, lelampu
kesepian singgah sebelum iman
sebelum salam memanggil

di kota, di mana dahaga tinggal
lorong ini
tak melepaskan doa
seakan ia tahu, tuhan tak di sana

2014   



Seseorang Yang Terusir Dari Anzio

ia yang membuat perapian dan membakar silsilah di keheningan
memainkan biola tapi fasih mengebiri
membacakan puisi tapi menikam pisau ke leher sendiri
di bukit oppio, gua dan lorong-lorong panjang
ia yang pergi bersama orang-orang malang
dihapus dari ingatan para santo
dari kota abadi
seperti anak jelata
asing dan sebatang kara

2014



Arah Kenangan

jalan tak lagi mengarah
di puncak tebing ini, umpama
satu-satunya pilihan hanya kembali 
aku, kelebat di balik kabut
yang tak bisa hilang       

2014



Musim Gugur 

sebuah lampu menyala
selekas tubuh dikemas,  
kamar yang gemetar,
bukit di kejauhan

2014 
  


Perjalanan Terang

tak ada yang lebih mendebarkan
dari perjalanan terang menjadi gelap
mengusir laron-laron
mendatangkan kekunang

manakala hinggap
menanam terang tubuhnya,
membuka satu-satu 
langsat kulit

di tubuhmu
jari-jemariku bergetar
saling mengabarkan
waktu yang tepat
memadamkan lampu